Selasa, 25 Desember 2012

Tipe Perempuan dalam AL Qur'an


     Dikenal sebagai makhluk lemah lembut, memiliki sejuta pesona. Pesona itu sendiri tidak hanya terpancar dari kecantikan wajah atau kemolekan tubuh semata, tetapi juga dari interaksi sosial mereka dalam masyarakat.

     Cantik itu relatif dan pesona itu inovatif, semua tergantung kepada kita, ingin menjadi seperti apa kita. Islam sendiri mengindahkan perempuan sebagai penyempuna bagi kaum laki-laki, sebagaimana laki-laki menyempurnakan perempuan, yang berarti perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama dalam masyarakat.

 “…… dan barangsiapa yang melakukan amal yang saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia mukmin, maka mereka akan masuk surga,…” (QS. Al-Mu’min:40)

     Ayat Al Qur’an tersebut jelas menunjukkan tidak adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan sehubungan dengan pekerjaan, amalan dan tindakan. Kita juga sering mendengar istilah “dibalik laki – laki sukses, pasti ada perempuan hebat”, baik di media cetak maupun media elektronik, yang berbicara tentang biografi dan keluarga seorang pengusaha yang sukses. Beberapa orang juga beranggapan, tidak hanya kesuksesan yang dapat dimunculkan oleh seorang perempuan, tetapi juga kegagalan. Namun terlepas dari itu semua, bagaimanapun tetaplah perempuan memiliki peran penting sebagai penentu.

     Untuk itu, perlulah kita mengenal sifat perempuan lebih dekat melalui Al Qur’an, agar tidak hanya melihat perempuan melalui fisiknya saja, tetapi juga kepribadiannya. Al Qur’an sendiri mengkisahkan ada beberapa tipe perempuan yang ada di tengah masyarakat dan menggambarkannya melalui beberapa tokoh yang cukup terkenal dimasanya.

     
     Tipe yang pertama adalah Perempuan Pejuang. Siti Asyiah binti Muzahaim, Istri Fir’aun merupakan sosok yang tepat untuk menggambarkan perempuan pejuang. Fir’aun, seorang raja yang lebih menganggap dirinya Tuhan, murka saat mengetahui istrinya menyembah Allah. Asyiah disiksa tanpa belas kasihan oleh suaminya sendiri. Pernah Asyiah disiksa oleh algojo Fir’aun, kedua tangan dan kaki Asyiah diikatkan ke sebuah tonggak dan ia dibawa seperti binatang buruan dibawah sengatan sinar matahari. Kemudian tangannya dipaku dan diatas punggungnya diletakkan batu yang besar. Bayangkan betapa kejam siksaan yang dilalui Asyiah. Semua dilakukan Fir’aun agar Asyiah berhenti mnyembah Allah. Tidak hanya sekali duakali Asyiah merasakan siksaan seperti itu, tapi walaupun berada dibawah kekuasaan suaminya yang melambangkan kezaliman, Asyiah tetap teguh pada untuk tidak mengubah keyakinannya kepada Allah dan menjaga akidah dan harga dirinya. Hal ini dilakukannya karena ia lebih memilih rumah abadi di surga ketimbang istana di dunia yang fana.

Dan Allah menjadikan teladan bagi orang – orang yang beriman perempuan Fir’aun ketika ia berdoa: Tuhanku, bangunkan bagiku rumah di surga. Selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya. Selamatkan aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-Tahrim: 11)

     Selain Asyiah, masih ada contoh perempuan pejuang seperti Khadijah binti Khuwailid, aisyah binti Abu Bakar, Nusaibah binti Ka’ab, yang mampu berjuang bersama suaminya dalam memperjuangkan agama Allah.

     Selanjutnya ada tipe Perempuan Solehah. Tipe ini diwakilkan oleh Siti Maryam atau lebih dikenal dengan nama Maryam, yang namanya diabadikan dalam salah satu surah dalam Al Qur’an. Maryam merupakan sosok wanita suci yang tidak tersentuh oleh seorang lelaki pun, dan selalu mengabdikan waktunya hanya kepada allah SWT. Ia selalu tenggelam dalam ibadahnya, berpuasa, shalat malam, dan senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah. Karena kesalehahannya, Allah memberikan kehormatan kepada Maryam untuk menjadi ibu dari Isa AS.

Dan Maryam putra Imran, yang menjaga kesucian kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-Nya; dan dia termasuk golongan orang-orang taat.” (QS. At-Tahrim:12)

Dia (Maryam) berkata: “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (QS.Maryam:20)

     Selain tipe yang sangat pantas untuk tauladani, ada juga tipe yang berlawanan dari tipe-tipe sebelumnya, yakni Tipe Perempuan Penghasut.

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasalah dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang diusahakan dan kelak dia akan masuk api neraka yang bergajolak dan demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang dilehernya ada tali dari sabut yang dipintal.” (QS. Al-Lahab: 1-5)

    Istri Abu lahab yang bernama Hindun diumpamakan sebagai pembawa kayu bakar (penebar fitnah) karena kemampuannya dalam menyebarkan fitnah dan gossip tentang Rasulullah SAW. Hindun dan suaminya bekerjasama dalam menghambat dakwah Islam.

     Tipe selanjutnya adalah Tipe Perempuan Penggoda. Nama Siti Zulaikha diabadikan dalam Al Qur’an sebagai sosok wanita penggoda. Zulaikha yang tergila-gila dengan ketampanan Nabi Yusuf, yang menghalalkan berbagai cara demi dapat bersanding dengan Yusuf.

Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata,”Mari mendekatlah kepadaku.” Yusuf berkata,”aku berlindung kepada itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

     Terakhir, ada Tipe Perempuan Pengkhianat. Al Qur’an memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang zalim, dan pada saat yang sama Al Qur’an mengecam perempuan yang menetang suami yang memperjuangkan kebebaran. Diumpamakan dalam tipe perempuan pengkhianat ini adalah istri Nuh dan istri Luth, yang mengkhianati suaminya.

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada dibawah pengawasan dua orang hamba yang saleh diantara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari siksa Allah; dan dikatakan  (kepada keduanya: “Masuklah kedalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.(QS. At-Tahrim:10)  


     Al Qur’an sebagai pedoman hidup umat manusia telah menunjukkan contoh perempuan yang dapat dijadikan teladan dan yang seharusnya dihindari. Sekarang bagaimana kita dapat menyikapi dan memilih tipe idaman dari tipe-tipe yang telah disampaikan tadi. Apakah kita akan menjadi perempuan sekokoh Asyiah, sesuci Maryam, atau malah memilih menjadi seperti Zulaikha, menggunjing sehebat Hindun serta berkhianat layaknya istri Nuh dan istri Luth, karena cantik terpancar tidak hanya dari wajah. Apalagi para remaja yang pastinya masih memiliki cerita panjang kedepannya, peran perempuan remaja juga terlihat peren-peran Fatimah dalam kisahnya. pada kondisi saat ini mahasiswi dan remaja jangan sampai salah arah, karena masa depan ditentukan pada jalan yang kita pilih saat ini. So girls, you’re choosing your beauty.

Minggu, 15 April 2012

Emansipasi Perempuan dari Segala Sisi


      Emansipasi selama ini selalu dipandang sebagai usaha-usaha yang dilakukan sekelompok orang yang haknya direndahkan atau dibatasi. Kata emansipasi sendiri sering kali digandeng dengan kata “wanita”. Tahukah kita bahwa pengertian emansipasi dengan arti filosofis dari kata “wanita” itu sendiri sangat bertolak belakang? Wanita berasal dari kata bahasa Jawa kuno “wani di tata” yang artinya “orang yang bisa diatur”. Selain itu, dalam bahasa Sanskerta, wanita terdiri  dari kata “wan” dan “ita” yang berarti “yang dinafsui”. Lain halnya dengan kata “perempuan” yang memiliki makna lebih positif namun tetap berasal dari kata Jawa kuno, yaitu “per-empu-an” yang artinya “ahli/mampu”, jadi perempuan berarti orang yang mampu melakukan sesuatu. Menurut pandangan saya, kata perempuan lebih cocok menjadi sambungan kata emansipasi, yakni : “Emansipasi Perempuan”.

      Jika berbicara tentang emansipasi perempuan di Indonesia, pasti di pikiran kita semua akan langsung tertuju kepada sosok pejuang emansipasi perempuan Raden Ajeng Kartini ( 1879-1904). Ibu Kartini-lah yang pertama kali menyuarakan issue tentang emansipasi perempuan yang paling lantang. Beliau menentang semua paradigma orang-orang pada saat itu terhadap perempuan. Jika membaca buku kumpulan surat0suratnya yang berjudul “Door Duiternis Tot Licht” ( Habis Gelap Terbitlah Terang ) pasti kita akan tersentak. Betapa pada saat itu seorang Ibu Kartini mampu berpikir jauh ke depan tentang kebenasan kaun perempuan yang bahkan mungkin tak pernah terpikirkan oleh perempuan-perempuan lain di Indonesia pada saat itu. Ibu Kartini dengan tegas menyatakan bahwa perempuan juga punya “suara”. Perempuan juga punya hak untuk “berdiri” sama rata dengan laki-laki. Perempuan juga bisa melakukan apa yang laki-laki lakukan. Perempuan juga berhak mendapatkan apa yang laki-laki dapatkan.



    “Gender” pada awalnya disamakan dengan “kodrat”, sebenarnya keduanya berbeda. Gender adalah peran yang dilekatkan pada perempuan atau laki-laki yang berkaitan dengan persoalan sifat, maupun norma-norma yang merepakan konstruksi social (hasil bentukan masyarakat) yang bisa berubah ; berbeda bentuk dan jenisnya dari ruang dan waktu, bisa dipertukarkan dan bisa disejajarkan. Sedangkan Kodrat pada hakikatnya adalah sesuatu yang diberikan kepada manusia sebagai pemberian dari Tuhan, yang bersifat alami dan lebih menyangkut soal kenyataan fisik dan tidak dapat dipertukarkan antara perempuan dan laki-laki. Kodrat ini tidak mungkin untuk diubah dan dipertukarkan karena masing-masing memiliki fungsi yang berbeda satu sama lain. Seperti misalnya alat kelamin dan payudara, kodrat untuk melahirkan bagi perempuan, dan lain sebagainya. Kalaupun kodrat dapat diubah atau ditukar antara perempuan dan laki-laki, maka tidak akan dapat berfungsi dan menjalankan peranan fisik seperti yang diberikan oleh Tuhan.
      Keadaan masyarakat sejak jaman dahulu yang serba menyudutkan perempuan menjadi cambuk bagi Ibu kartini untuk mencari tahu sebab dari ketidakadilan itu. Ibu Kartini kemudian mulai menulis surat kepada sahabat-sahabatnya. Dituangkannya segala uneg-uneg nya di dalam surat-suratnya. Hatinya sangat pilu karema hanya bisa menjadi seorang ‘Raden Ayu’.

     Lalu mari kita lihat keadaan pepempuan di jaman sekarang. Semuanya mengamini emansipasi namun kebanyakkan  salah kaprah tentang arti emansipasi itu sendiri. Pertama, perempuan sering menggunakan emansipasi sebagai ‘tameng’ untuk bebas dari kodratnya sebagai perempuan yaitu hamil dan melahirakan. Begitu juga dengan perannya sebagai seorang ibu dan istri di keluarga. Para perempuan ini menganggap bahwa “sejajar” berarti harus benar-benar “sama”, antara laki-laki dan perempuan, tanpa memperhatikan bahwa ada hal-hal yang sudah menjadi kodrat perempuan yang tidak bisa ditinggalkan. Di lain kesempatan, para perempuan sering “melemahkan” dirinya sendiri ketika ada hal-hal yang bisa dikerjakannya sendiri tapi untuk mengerjakannya lebih sering meminta bantuan orang lain (laki-laki). Saya pernah mendengar seorang dosen (laki-laki) mengeluh ketika ada sorang dosen perempuan meminta bantuannya untuk mengganti ban mobil. Dosen saya yang laki-laki berkata, “Kalo soal lain minta emansipasi, kalo ganti ban gak bisa ya panggil montir dong. Jangan yang nampak saja yang direpotkan.”

     Dari perkataan dosen saya yang laki-laki itu saya kemudian berpikir, memang sangat sering hal itu terjadi dan saya pun kadang seperti itu. Perempuan sering memandang emansipasi hanya dari satu sisi. Padahal seharusnya kita memandang emansipasi dari berbagai sisi sehingga tidak menjadi bahan sindiran bagi kaum adam. Kita harus jeli, bahwa perempuan pada dasarnya punya banyak kelebihan dibanding laki-laki. Kita bisa memikirkan banyak hal sekaligus. Kita lebih sensitif dan perasa. Kita lebih teliti, dan banyak kelebihan lainnya. Jadi jangan sampai kita ‘dijengkali’ oleh laki-laki. Kita bisa seperti mereka. Bahkan lebih. Lihat saja di masyarakat, lebih banyak ‘single parent’ perempuan daripada laki-laki. Karena apa? Laki-laki bahkan sering tidak sanggup untuk melayani dirinya sendiri tanpa bantuan dari perempuan. Untuk itu, marilah kita para perempuan Indonesia terus membangun diri dan bangsa dengan tidak juga melupakan kodrat kita sebagai perempuan. Marilah kita peringati hari kelahiran Ibu Kartini tanggal 21 April nanti dengan kebulatan tekad. Ibu Kartini saja bisa, kenapa kita tidak? Begitu juga dengan laki-laki. Mulai saat ini, hormatilah perempuan. Baik yang sebaya, yang lebih muda, apalagi yang lebih tua. Karena dengan menghormati perempuan sesungguhnya kita telah menghormati ibu kita sendiri. Selamat Hari Kartini Bagi Seluruh Perempuan Indonesia!


                                                                     
Oleh : Rahmadina Agusti ( http://www.facebook.com/home.php?ref=hp#!/dinaswaying )

Rabu, 04 April 2012

HMI dan Mahasiswa

  Himpunan mahasiswa Islam yang disingkat dengan HMI sebuah organisasi yang didirikan di Yogyakarta pada 14 Rabbiul Awal 1366 Hijjria bertepatan pada tanggal 5 Februari 1947, atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta. Landasan  dari Nama HmI dijelaskan secara terperinci yaitu :

  • Himpunan : sekumpulan Individu atau Masyrakat yang tidak memandang perbedaan yang terlalu berarti, apakah dia Islam NU, Muhammadiyah dan sebagainya
  • mahasiswa : dibuatnya huruf m yang kecil membedakan maha dengan Mahanya Tuhan. jadi mahasiswa identik dengan kaum muda yang mempunyai semangat juang yang tinggi, tidak bepikir pragmatis, tidak berpokiran strutural, serta politik oriented. tepatlah jadinya istilah "Muda Idealis Tua Pragmatis.
  • Islam : menjelaskan bahwa yang yang berhimpunan di organisasi ini adalah mahasiswa yang menganut Agama Islam. Karna Islam yang menjadi Motivasi dan Orientasi bagi HmI atas keyakinan dari kebenaran yang diajarkan oleh Agamanya
    Faktor yang memunculkan Ide atau kebutuhan didirikannya HmI di latar belakangi oleh tiga kondisi yang terjadi, baik kondisi mahasiswa indonesia, kondisi negara, dan kondisi Umat Islam.
  • Masalah yang terjadi di tingkatan mahasiswa sebelum berdirinya HmI, saat itu sebagian besar mahasiswa berfikir PMY perserikatan Mahasisma Yogyakarta sudah tidak lagi memberikan cukup wadah untuk kegiatan yang bersifat keagamaan. Hal ini pun bukan hanya dari mahasiswa yang beragama Islam, namun mereka juga yang memegang kuat ideologi keagamaan.
  • Krisi kesinamubungan yang sempat terjadi di jenjang perguruan tinggi di sebabkan oleh sebagian besar mahasiswa di bawah pengarus pemerintah yang mengalami polarisasi karna adanya pemikiran yang bertolak belakang atas pendirian di masing-masing partai yang ada. Akibatnya memberikan peluang bagi belanda untuk Memperkuat bagian persenjataannya untuk melawan Indonesia kembali
  • Kondisi Pemahaman keislaman pun di tingkatan masyarakat banyak yang masih memiliki paham-paham mistis, yang sangat bertolak belakang dengan ajaran Agama Islam.
    Berdirinya HmI juga sempat di tentang di masa PKI. Bahkan sampai ada yang ingin membubarkan HmI tetapi hal itu tidak terjadi. malah di masa orde baru merupakan masa-masa kebangkitan HmI yang beperan sebagai pelopornya. HmI pun memberikan sumbangsi serta partisipasinya dalam era awal pembangunan. seperti partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran dan pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Akhirnya pada masa reformasi pun HmI mulai melaksanakan dengan memberikan gagasan, menyampaikan pandangan serta mengkritik pemerintah.

    Dalam anggaran dasar HmI, pasal delapan dikatakan "HmI berfungsi sebagai organisasi kader". maka perkaderan adalah hal yang terpenting dalam organisasi ini. adapun ciri-ciri dari kader HmI itu sendiri terdiri atas lima karakteristik yang saling menguatkan dan berhubungan satu sama lainya, antara lain :
  1. Consceptor
  2. Problem solving
  3. Sodarity making
  4. Administrator
  5. Negarawan 
   Dilaluinya fase-fase yang terjadi kini HmI pun terbagi menjadi dua, yaitu HmI DIPO (Diponogoro) yang lebih ke intelektual dan MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) cendrung lebih ke Agamaan. Hal ini terjadi adanya kebijakan bahwasanya setiap organisasi diharuskan berazaskan tunggal PANCASILA. Jadi, dengan adanya kebijakan ini, terjadinya perbedaan antara kader HmI ada yang menentang dan ada pula yang setuju, HMI yang semula hanya berazaskan Islam terbelah menjadi dua kubu, yaitu antara kubu yang tetap mempertahankan azas Islam dengan kubu yang berusaha mengikuti perintah Presiden Soeharto mengubah azasnya menjadi Pancasila. Kubu yang tetap mempertahankan azas Islam dalam HMI kemudian menamakan diri dengan Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi disingkat HMI-MPO. Sedangkan kubu yang mengikuti perintah Presiden Soeharto sering disebut HMI DPO, dikarenakan Sekretariat Pengurus Besarnya yang berada di Jalan Diponegoro.

Jumat, 18 November 2011

GRAFIS DESIG for HmI













MENGEMBALIKAN WUJUD KEINTELEKTUALAN DIRI KADER HMI DEMI MEWUJUDKAN LAHIRNYA INTELEKTUAL-INTELEKTUAL MUSLIM

TINJAUAN MASALAH
A.Latar Belakang
Dengan nama Allah Yang Maha pengasih Maha Penyayang. Berjalannya waktu dan berkembangnya zaman yang beralih ke masa globalisasi sangat besar perubahan yang terjadi, namun perubahan tersebut bukan ke arah yang lebih baik, realitanya keadaan pelajar indonesia sudah mampu menciptakan sebuah teknologi, namun yang terjadi kemampuan tersebut tidak dikembangkan dengan baik, malahan seorang sarjana teknik mesin banyak yang menjadi pegawai Bank. Kemunduran seperti ini terjadi pada kaum intelektual yang sangat berdampak pada kelangsungan negara ini. Begitu banyak  permasalahan dan konflik yang hilang begitu saja ditutupi oleh munculnya permasalahan dan konflik baru di mana sampai saat ini masalah aktivis yang hilang belum juga selesai, malah masalhnya terkesan ditutup-tutupi. Masalah korupsi yang tercatat sejumlah 305 kasus hanya 47 kasus yang terselesaikan, apa lagi masalh umat beragama yang sampai saat ini masih terus berlanjut.
Pada saat tidak ada lagi pemimpin negara yang berusaha menyelesaikan masalah. Mahasiswa sebagai agen of change lah harapan bangsa, insan terdidik, kritis, dan berwawasan yang relatif lama berproses  dalam dunia pendidikan. Mahasiswa memiliki peran dan posisi strategis dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara yang mampu membuat perubahan dan mengarahkan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.
Pada saat sekarang potensi yang dimiliki mahasiswa tidak lagi dimanfaatkan kepada bangsa ini. ketakutan mengolah pemikiran mejadi sebuah ideologi, menurunnya intelektual, dan tidak menariknya wadah-wadah yang mengeksplor kemampuan dan peran mahasiswa menjadi penyebabnya. Sehingga mahasiswa menjadi followers yang tidak begitu bermanfaat bagi individu mereka apalagi untuk bangsa, negara dan masyarakat, tercermin dalam rutinitas mahasiswa saat ini yang kesehariannya beraktifitas hedonis, seperti mahasiswa yang mengobati kejenuhanya dengan mencari hiburan seperti dugem.
Degradasi Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) sebagai salah satu organisasi mahasiswa tidak lagi menarik di mata mahasiswa-mahasiswi saat ini. Dapat dilihat dari jumlah perekrutan dari tahun ke tahun. HmI belum menjawab tantangan zaman, saat ini HmI masih meneruskan perputaran yang dijalankan kader-kader terdahulu melupakan perubahan zaman di mana mahasiswa saat ini lebih berfikir pragmatis jika tidak ada hal yang kongkrit diterimanya maka mereka tidak akan pernah mau mengkutinya. Kader-kader terdahulu sadar akan meningkatkan kualitasnya, sehingga tidak perlu membuat aktivitas yang memberikan stimulus dengan intens. Jiaka dilihat keadaan sekarang kesadaran tersebut sudah sangat-sangat menurun dalam setiap diri kader, maka kegitan yang memberi stimulus untuk meningkatkan kualitas kader harus lebih intens jika kader-kader dulu diskusi bersama satu kali seminggu, maka saat ini harus tiga kali seminggu.
Bermasalahnya  ketertarikan mahasiswa untuk menjadi kader HMI, akan berdampak pada menurunnya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam. Poin yang terdapat pada insan cita tersebut, bagian dari intelektual. Keadaan saat ini, Intelektual sendiri mengalami kemundurun. Budaya diskusi, mebaca, dan pembedahan bukunya sudah tidak lagi menjadi aktivitas yang utama. Sehingga modal dalam meningkatkan intelektual sangat minim ditingkatkan dan dieksplor oleh kader HmI.






















B.Rumusan Masalah
Seharusnya HmI telah tumbuh dewasa dan matang sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan yang bertanggung jawab atas terwujud masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Bukan malah kehilangan progresifitas ditengah terjadinya degradasi kaum intelektual muslim yang di butuhkan oleh bangsa ini. HmI yang belum mampu menjawab tantangan zaman, dengan kondisi mahasiswa di zaman ini yang tidak begitu berminat untuk berhimpun di HmI dan mahasiswa yang berfikir pragmatis, megakibatkan sulitnya HmI untuk melahirkan intelektuat-intelektual muslim, yang mana bagian dari modal mewujudkan insan cita dan juga akan diteruskan menjadi masyarakat cita.
Minimnya minat kader dalam meningkatkan kualiatas diri akan pengetahuan dan wawasan, mengharuskan HmI mengembalikan wujud keintelektualan diri kadernya, untuk memunculkan semangat kader HmI dalam aktivitas yang meningkatkan  wawasan dan pengetahuan, agar HmI kembali melahirkan intelektual-intelektual muslim.

PEMBAHASAN
A.Pengukuhan Pribadi Insan Akademis
          Hubungan individu dan maysarakat sebenarnya sangat jelas diatur di dalam konstitusi HmI seperti yang termuat di dalam Anggaran Dasar pasal 4 yang berbunyi, “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT”. Dari tujuan inilah dirumuskan kualitas insan cita dan masyarakat cita menurut HmI. Insan akademis menjadi kualitas pertama, maknanya ia harus berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, mampu berfikir rasional dan kristis. Ia mempunyai kemampuan teoritis dan mampu memformulasikan apa yang di ketahui dan di rasakan.
          Kualitas insan akedemis ini lah yang mengalami kemunduran di zaman sekarang, dan ini pula yang menyebabkan HmI itu tidak menarik lagi, sebab melamahnya pengakuan masyarakat dan mahasiswa-mahasiswa terhadap kader-kader HmI atas kualitasnya saat ini, baik dilihat dari segi pengetahuan, cara berfikir yang belum rasional dan kristis, apa lagi jika menyinggung kemampuan memformulasi.
         Pengukuhan kualitas insan cita pada setiap diri kader HmI, akan menjadi modal besar, di saat HmI melakukan perekrutan. Hal yang sangat perlu di perhatikan bagai mana kualitas kader-kader HmI dalam perkuliahan, sebab mahasiswa saat ini memiliki target menyelesaikan kuliah dengan waktu yang relatif singkat, kader-kader HmI sendiri harus mampu menjawab tantangan tersebut, dimana kader-kader HmI harus memiliki kualitas yang baik dalam perkuliahan dan mampu tamat secepat mungkin. Mahasiswapun pasti dapat melihat apa perbedaan HmI dengan organisasi mahasiswa yang lainnya, sehingga mahasiswa yang tidak pernah berminat berorganisasi, akan tertarik untuk berhimpun di HmI.

Dengan begitu baiknya HmI secara kuantitas, maka akan mempermudah HmI dalam proses penyelektifan anggota untuk menjadi kader yang sadar intelektual sehinga kader HmI dapat menjadi wujud dari intelektual muslim. Lagi pula makna kader dalam kontitusi HmI adalah anggota-anggota HmI yang sadar akan terus meningkatkan kualitas dirinya.  Antara kualitas dan kuantitas akan saling mendukung untuk menciptakan intelektual muslim dan muslim yang intelektual.

B.Tuntutan Berfikir dalam Islam
       Kemampuan tafakkur  menjadi salah satu ciri paling penting, bukan hanya membedakan manusia dengan makhluk lain, tetapi juga  memenuhi syarat untuk melaksanakan peran penting sebagai pembangun peradaban dan pembawa misi. Tafakkur adalah istilah arab untuk berfikir, tafakkur menjembatani persepsi dan konsepsi dari kehidupan dunia ini ke akhirat dari makhluk ke penciptanya, Allah SWT. Tafakkur dapat memotivasi aktivitas eksternal dan internal.
         Berfikir menjadi landasan dan modal utama untuk membangkitkan bibit-bibit intelektual, serta memacu semangat untuk terus mau berlomba menyerap ilmu pengetahuan yang dapat memberikan penyelesaian masalah.
        Berfikir dalam islam adalah salah satu aktivitas yang selalu di tekankan dalam kehidupan, agar mampu menemukan suatu kebenaran. Dalam sebuah pilihan jalan kehidupan untuk setiap umat dan hambanya, ada beberapa bahasa dari Al-Quran yang sering mengacu pada pemahan atas berfikir seperti:
1.    Nazhar (Memperhitungkan, Memikirkan, Memerhatikan)
2.    Tabashshur (Memahami)
3.    Tadabbur (Merenungkan)
4.    Tafaqquh (Memahami sepenuhnya, Sungguh-sungguh mengerti)
5.    Tadzakkur (Mencamkan dalam Fikiran atau Hati)
6.    I’tibar (Belajar memahami atau memetik pelajaran)
7.    Ta’aqqul (Menggunakan pikiran dengan benar)
Dari kata-kata yang ada di atas, tertuliskan dalam (Q.S.Yunus [10]:101) “Perhatikanlah yang ada di langit dan di bumi.” (Q.S.Al-Baqarah [2]: 221) “Dan Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mencamkan dalam pikiran.” Ada juga penegasan bahwa di saat berfikirpun harus dengan benar. “lalu apakah mereka tidak pernah melakukan perjalanan di muka bumi agar mereka menemukan kebijaksanaan dan menyebabkan telinga mereka mendengar.” (Q.S.Al-hajj [22]: 46)
Meredupnya intelektual dari HmI di sadari sejak 50 tahun umur HmI, punahnya tuntutan berfikir dari diri kader HmI berdampak pada hilangnya ketertarikan dengan suasana intelectual exercises dalam forum diskusi.
Mengembalikan tuntutan berfikir dalam setiap diri kader akan memberikan stimulus dalam pengaktifkan saraf-saraf yang mampu memulihkan semangat untuk menanggapi problematika dan dinamika yang berlangsung, sehingga dalam menanggapi dan menyikapinya akan menimbulkan sebuah forum diskusi yang menampung berbagai macam pemikiran-pemikiran yang dapat di kristalisasi bersama.

C.Ilmu Pengetahuan Bekal Mencari Kebenaran
     Untuk menjadi seorang kader berintelektual, perlu memiliki bekal untuk terjun ke masyarakat luas, agar tidak dengan mudah dapat di kalahkan oleh musuh-musuh yang senantiasa menentang. Seorang intelektual tidak mungkin dapat mengimplementasikan pemikiran-pemikirannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa memiliki ilmu pengetahuan, sebab tanpa ilmu pengetahuan akan sulit untuk merasionalisasikan pemikiran-pemikirannya. Seperti yang diutarakan oleh Tsun zhu ‘kenali dirimu, kenali musuhmu, kenali lingkunganmu, maka kemenangan ada di tanganmu.
       Disaat sumberdaya alam yang begitu melimpah ruah, tidak mungkin termanfaatkan secara maksimal tanpa menggunakan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya sekalipun kebenaran itu sangat relatif. Namun mau tidak mau proses harus dilalui manusia dengan sungguh-sungguh sebagai alat untuk menuju kebenaran mutlak
         Memang benar dengan ilmu pengetahuan kita dapat memanfaatkan sumberdaya alam yang melimpah ruah, namun jika dikatakan ilmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran saya sangat tidak setuju, perannya sebagai alat belum menumukan fungsionalnya dalam aktivitas yang sering di jalani. Disaat seorang mahasiswa ekonomi ingin mencari tau kebenaran akan isu yang mengatakan bahwa bank yang membawa embel-embel Sya’riah saat ini belum sepenuhnya menganut sistem ekonomi Islam, maka seharusnya mahasiswa tersebut harus memiliki ilmu pengetahuan tentang sistem ekonomi Islam, agar mahasiswa tersebut dapat membandingkan antara sistem yang digunakan bank tersebut dengan pengetahuannya akan sistem ekonomi islam. Disini lebih terlihat bahwa ilmu pengetahuan menjadi bekal untuk mencari kebenaran bukan terlihat sebagai alat.
       Dengan melimpahnya ilmu pengetahuan sebagai bekal yang dimiliki seorang kader, maka peluang yang dimilikinya untuk dapat eksis menjadi intelektual yang memiliki landasan acuan-acuan pemikiran terhadap kehidupan masyarakat yang membutuhkan teladan dan panduan dalam menjalani kehidupan ini semakin besar. Dengan ilmu pengetahuan yang menjadi bekal untuk mencari sebuah kebenaran, semestinya kader-kader HmI sadar akan pentingnya meningkatkan ilmu pengetahuan, agar kader tersebut mampu menjadi intelektual yang dinanti-nanti kelahirannya.

D.Keberanian dan Kebebasan Berfikir
        Mengubah kultur ketakutan masyarakat merupakan sebuah pekerjaan paling berat, problem yang menghambat seseorang berfikir kritis adalah adanya rasa takut. Rasa takut harus di bongkar ke akar-akarnya, agar dapat membangun sistem yang dinamis, merdeka, jujur terhadap sesama dan membentuk karakter yang kritis.
Pada saat ini HmI masih memiliki kader-kader yang berpotensi dan mampu menjadi kaum intelektual muslim. Hilangnya budaya baca dan diskusi, membuat keberanian dan kebebasan berfikir kader-kader HmI menjadi terkurung dan tidak bebas untuk mengembangkanya. Berfikir kritis dipicu oleh keberanian diri dalam mengelola input yang terus masuk. Berani meberi pandangan yang berbeda, mengembang luaskan hasil dari pemikiran hingga mampu mengaplikasikannya ke dunia nyata.
Dari perkembangan pemikiran-pemikiran baru keislaman yang terus muncul di luar HmI, membuat HmI semakin mengalami kemunduran, tradisi intelektual HmI Mengalami kemerosotan. Kebebasan berfikir sangat terbuka, pemikiran itu sangat universal, siapapun dapat mengkaji, mengkritik dan mengembangkannya.
Bebas untuk berfikir, merangkum dari segala perspektif yang muncul, mengamati dari bebagai sudut pandang baik positif maupun negatif, dan berani berada pada titik ekstrim yang mampu melawan hal-hal salah dan juga berani tunduk pada sebuah kebenaran.
E.Ideologi Sebagai Pemikiran yang Diperjuangkan
       Ideologi menjadi sebuah kata yang melekat pada kaum intelektual, ideologi juga menjadi bagian dari diri intelektual, istilah ideologi yang dibentuk oleh kata ideo dan logi, ideo berarti pemikiran, khayalan, konsep dan keyakinan, sedangkan logi berarti logika, ilmu, atau pengetahuan.
Ideology bedasarkan bahasa Yunani dan merupakan gabungan dari dua kata yaitu edios yang artinya gagasan atau konsep dan logos yang berarti ilmu. Pengertian ideology secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Dalam arti luas, ideology adalah pedoman normative yang dipakai oleh seluruh kelompok sebagai dasar cita-cita, nila dasar dan keyakinan yang dijunjung tinggi.
Ideologi adalah sebuah kata  yang muncul dari pemikiran dan semangat hidup di antara manusia, terutama diantara kaum muda dan khususnya di antara cedikiawan atau intelektual dalam suatu msyarakat.
         Tahapan berfikir menciptakan deologi  ada tiga yaitu :
  • Pertama, cara kita melihat dan manangkap alam semesta, eksistensi, dan manusia.
  • Kedua, terdiri cara khusus dalam kita memahami dan menilai semua benda dan gagasan atau ide-ide yang membentuk lingkungan sosial dan mental kita.
  • Ketiga, mencakup usulan-usulan, metode-metode, sebagai pendekatan dan keinginan-keinginan yang kita manfaatkan untuk mengubah status quo yang membuat kita tidak puas.
Pemahaman secara bahasa menjelaskan bahwa ideologi berisi sebuah pemikiran yang membentuk sebuah konsep, dari ilmu pengetahuan, lalu tahap berfikir ketiga Ali Shariati  menjelaskan tahapan tersebut sebagai tahap mebentuk semangat hidup untuk memperjuangkan pemikiran yng menjadi konsep dari ilmu pengetahuan.
Dengan pemahaman bahwa ideologi sebagai pemikiran dan konsep yang diperjuangkan, maka kader-kader HmI dapat mengerti keistimewaan  dari kaum intelektual serta apa saja yang membedakannya dengan orang-orang yang berfikir untuk dirinya sendiri, di saat orang-orang pemikir hanya sebatas berfikir untuk kemajuan dirinya sendiri kaum intelektual mampu berfikir untuk menemukan sebuah konsep,ide-ide, solusi untuk masyarakat dan umat serta memperjuangkannya untuk mencapai kondisi tanpa merugikan siapapun dengan pemikiran-pemikirannya yang universal.

F.Islam dan Intelektual
    Islam sepanjang sejarah peradabannya telah memberi kontribusi  positif dalam perjalanan ilmu itu sendiri, ada yang patut dicontoh untuk membangkitkan intelektual muslim pada saat ini,  pada saat abad pertengahan sains Islam sangat maju.
         Ada delapan faktor yang membuatnya sangat maju, Yaitu :
  • Pertama, peran kesadaran religius sebagai daya dorong untuk menuntut sains dan teknogi
  • Kedua, ketaatan pada syari’ah mengilhami studi atas berbagai ilmu.
  • Ketiga, kelahiran dan kebangkitan gerakan penerjemahan besar-besaran yang bertahan selama beberapa abad.
  • Keempat, suburnya filsafat yang ditunjukkan pada pengajaran, kemajuan dan pengembangan ilmu.
  • Kelima, luasnya santunan bagi aktivitas sains dan teknologi oleh para penguasa dan wazir.
  • Keenam, adanya iklim intelektual yang sehat sebagai mana yang diilustrasikan fakta sejarah.
  • Ketujuh, peran penting yang dimainkan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan ilmiah, terutama dengan adanya universitas-universitas.
  • Kedelapan, keseimbangan yang dicapai oleh perspektif-perspektif intelektual islam yang utama.
Tibalah saatnya untuk mendiskusikan umat islam terhadap ilmu pada masa sekarang ini. Sains menempati posisi paling lemah di dunia islam, dominasi ortodoksi agama dan semangat intoleransi yang menguat di dalam masyarakat islam merupakan faktor utama yang bertanggung jawab atas musnahnya lembaga ilmu pengetahuan yang pernah jaya dalam islam.
Umat Islam saat ini harus menghidupkan etos intelektual untuk menguasai ilmu pengetahuan dan memperjuangkannya. Ada tiga faktor perlunya ilmu pengetahuan bagi umat islam. Pertama, pengetahuan dari suatu ilmu merupakan persyaratan pencapaian tujuan-tujuan islam sebagai mana dipandang oleh syari’ah, maka mencarinya menjadi sebuah kewajiban. Kedua, masyarakat yang dikehendaki oleh Al-Qur’an adalah masyarakat yang agung dan mulia, bukan masyarakat yang takluk dan bergantung pada orang-orang kafir. Ketiga, Al-Qur’an Menyuruh umat islam untuk mempelajari ilmu pengetahuan, penciptaan alam, keajaiban-keajaiban alam, agar umat islam mampu merekayasa dunia ini sesuai dengan kehendak Allah.
Dari fakta faktor-faktor di atas HmI seharusnya sudah bisa meberikan stimulus atau rangsangan pada kader-kader HmI, agar mampu dan berani berdiri di garda terdepan dalam mengusung ilmu dan menjadi seorang intelektual muslim sehingga HmI dapat kembali melahir kembali Intelektual-intelektual HmI.

PENUTUP
A.Kesimpulan
       Dari pembahasan isi makalah ini dapat di simpulkan bahwa point-point yang di paparkan dan dibahas, mampu dimanfaatkan untuk mengembalikan wujud keintelektualan diri kader HmI demi mewujudkan lahirnya Intelektual-intelektual muslim :
  • Dengan pengukuhan pribadi insan akademis pada setiap kader HmI, seharusnya dapa menjadikan HmI wadah yang terlihat sebagai tempat mahasiswa dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, dan wawasannya baik untuk kuliah maupun diluar perkuliahan, agar ketertarikan mahasiswa-mahasiswa untuk ikut besama-sama meningkatkan kualitas diri akan menyeimbangkan antara kuantitas dan kualitas Intelektual.
  • Berfikir menjadi salah satu aktivitas yang dimiliki kaum intelektuak, juga sudah di tekankan dalam Islam. Tuntan berfikir menjadi pengamalan bagi kader-kader HmI
  • Ilmu pengetahuan menjadi hal yang paling dibutuhkan. Besarnya ilmu pengetahuan seorang kader memberikan stimulus dalam proses pembentukan intelektualnya, yang mana ilmu pengetahuan bekal untuk mencari kebenaran yang mutlak.
  • Untuk dapat memunculkan pemikiran-pemikiran baru terletak pada kebebasan berfikir, yang memiliki perspektif yang luas. Kebebasanpun harus di dorong oleh keberanian melawan yang salah, dan berani tunduk jika kebenarannya datang.
  • Dengan pemikiran-pemikiran kader HmI yang menciptakan konsep untuk diperjuangkan kader-kader HmI mampu membawa Ideologi yang dapat mendatangkan sebuah perubahan untuk kebaikan nantinya.
  • Dalam islam intelektual telah memberi kontibusi yang positif pada perkembangan ilmu, namun keadaan yang semakin mundur pada saat sekarang HmI harus mampu mengembalikan etos intelektual kedalam dirinya, sehingga HmI kembali ke khitahnya sebagai Harapan Masyarakat Indonesia dimana dibuktikan dengan lahirnya Intelektual-intelektual muslim dari HmI.
A.Saran
  • HmI harus kembali menanamkan nilai-nilai agama yang menuntut kader-kadernya meningkatkan akademis, sebagai langkah awal untuk menjadi intelektual.
  • Waktu untuk terus mengeksplor kemampuan meningkatkan intelektual masih banyak dan tidak ada yang tidak mungkin, karna islam sudah pernah membentuknya di masa lalu, kita hanya perlu mengulangnya kembali.
  • Komisariat menjadi tempat berjuang, dalam lingkup perkrutan dan pembinaan, sudah harus memiliki kegiata-kegiata seperti diskusi, bedah buku, serta mewajibkan membaca buku yang akan di tindak lanjuti nantinya dengan intens,  yang meningkatkan perkuliahan, kualiatas wawasan dan ilmu pengetahauan anggota dan kadenya, dan sudah dapat menghasilkan tulisan-tulisan dari segala jenis ilmu pengetahuan yang dimiliki sebagai bentuk nyata, perkembangan dan progres yang dimiliki anggota dan kader HmI.
  • Tingkat cabang seharusnya memperjelas fungsinya sebakai bagian dari pengkaderan, maka dari itu cabang harus mampu mewadahi dan memfasilitasi forum-forum diskusi sistematis yang mengkutsertakan seluruh komisariat sekawasan.
  • Pengurus Besar HmI menurt saya sudah bisa memperjuangkan nilai nilai pemikiran-pimikiran dari intelektual muslim yang lahir dari HmI nantinya.
  • Teruslah berusaha dan berjuang jangan pernah berhenti, jadikan intelektual menjadi karakter HmI kembali, berhentilah di saat dipisahkan dengan dunia.
(Krisna Savindo, HMI FE USU)

Kamis, 13 Oktober 2011

SOEKARNO - SANG PROKLAMATOR


Ir. Soekarno
       ER, EYD: Sukarno, nama lahir: Koesno Sosrodihardjo
lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901, meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Ir. Soekarno Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966.

    Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.Soekarno adalah penggali Pancasila karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan ia sendiri yang menamainya Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

     Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya - berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat - menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.

    Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam. Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir. Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

    Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS. di Surabaya, Jawa Timur. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama H.O.S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.

    Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

"Krisna Savindo"
Referensi : Wikipedia

Selasa, 11 Oktober 2011

Daftar Anggota yang Lulus Mengikuti Latihan Kader 1 (Basic Training) Periode 2011-2012

 





















Muhammad Abdalla (2010)                                             Ridho Alfurqan (2010)



















Lani Novita Sari (2010)                                                  Riyanti Syarista (2010) 
        

















Eksanto Sahartos (2010)                                                  Rizky Redika (2010)

















Siti Sakdiah Eva Santy (2010)                                          Fahmi Syafitra (2010)

















Nofriska Krissanya (2010)                                                Feri Anugrah (2010)
















Fanni Novianing Putri (2010)                                             Poppy Amanda (2010)
















Triana Ritzyea (2010)                                                         Husnul Fikri (2010)















Ade (2011)

Minggu, 09 Oktober 2011

Profil Pengurus HMI FE USU Periodesasi 2011-2012


Ketua Umum
Data Pribadi
Nama lengkap     : Muhammad Hafis
Tmpt,tgl lahir      : Medan, 25 November 1989
Alamat                : Jln.H.Muhammad harun/Mesjid, No.37 Kec.PST
No. Tlpn/Hp/Pin : 0812 6502 5339/ 228CAD95
Email/Facebook  : hafis_cita20@yahoo.com





Data Pendidikan
SD                            : SDN 101779 Percut Sei Tuan
SMP                         : SMPN 3 Percut Sei Tuan
SMA (Sederajat)      : MAN 1 Medan
PT (S1)                    : Universitas Sumatera Utara
Fakultas,Jurusan      : Ekonomi, Akuntansi
Masuk thn                : 2009

Data Organisasi
Tahun Msk HMI       : 2009
Training HMI           : LK-1 Cab Medan 2010
                                     LK-2 Cab Medan 2011
Training Lain           : LKM (Latihan Kepemimpinan Mahasiswa) 2010
Pnglmn di HMI        : Dept.P3A 2009-2010
                                   Wasekum.P3A 2010-2011
                                   Wabendum 2010-2011
                                   Ketua Umum 2011-2012
Pnglmn lain             : Himpunan Mahasiswa Akuntansi 2011-2012
                                   Remaja Mesjid Alikhlasiyah
Motto Hidup            : Yakinkan Semua untuk Satu, Usahakan Semua Untuk Sampai



 Sekretaris Umum
Nama lengkap     : Yosico Vita Ningsih
Temp/tgl lahir      : Tangerang, 15 Januari 1992
Alamat                 : Sri Gunting Komplek Polda Blok AA-8 Sunggal
No hp                   : 0852 7081 5051
Email/facebook   : yosicovitaningsih@ymail.com / vyosico@yahoo.co.id







Data pendidikan       : SD Swasta Nurul Huda
                                    SMP N 9 Medan
                                    SMK Panca Budi-2 Medan
                                    PT(S1) Universitas Sumatera Utara
                                    Fakultas/jurusan : Ekonomi / Akuntansi
Masuk tahun             : 2009

Data organisasi        
Thn msk hmi            : 2009
Training hmi            : MOP 2009 panitia Fakultas Ekonomi
                                   LK1 2010 panitia Fakultas Syariah IAIN dan Fakultas Pertanian USU
Training lain            : Latihan Kepemimpinan 2010
Pengalaman di hmi  : Departemen Eksternal KOHATI
                                   Departemen PTKP
                                   Wakil Bendahara Umum
                                   Sekretaris Umum
Pengalaman lain      : OSIS
Motto hidup             : lakukan yang terbaik, karena takkan ada kesempatan untuk mengulangnya